Minggu, 09 Agustus 2009

ITIK ALABIO

Itik Alabio (Anas platurynctos borneo) berasal dari daerah Hulu Sungai Utara – Kalimantan Selatan. Nama alabio dipopulerkan oleh drh Saleh Puspo tahun 1950, berasal dari nama desa di Kecamatan Sungai Pandan. Beternak itik alabio merupakan usaha turun-temurun penduduk setempat.

Unggas yang punya ciri khas paruh dan kaki kuning ini merupakan salah satu itik spesies unggul di Indonesia. Produksi telurnya sebesar 220 – 250 butir per ekor per tahun, dengan puncak produksi sebesar 92,7%. Konsumsi pakannya 155-190 g/ekor/hari, dengan daya tunas 90,38%, daya tetas 79,49-80%, dan mortalitas setelah menetas 0,75 - 1%.



Hasil penelitian yang telah dilakukan di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) menunjukkan bahwa rata-rata umur pertama bertelur itik Alabio dicapai pada umur 142,12 hari. Rataan bobot badan pertama bertelur itik Alabio 1621,75 g, sedangkan bobot telur pertamanya 50,54 g. Bobot dewasa 1,6 – 1,8 kg untuk betina dan 1,8-2,0 kg untuk yang jantan.

Usaha tani itik alabio telah dilakukan sejak lama di Kalimantan Selatan dan mampu memberikan kontribusi yang memadai terhadap pendapatan keluarga. Usaha itik alabio menjadi mata pencaharian utama bagi 46,81% peternak di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Hulu Sungai Utara, dengan rata-rata pengalaman beternak 9,69 tahun, dengan skala kepemilikan bervariasi antara 200 - 7.000 ekor/peternak

Bagi anda ingin info lengkap tentang Pasar Itik Alabio, yaitu di Amuntai, Kab. Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, anda dapat mengikuti link berikut ini :
klik di sini

Atau milik Majalah Peternakan : Trobos yang disampaikan :

Oleh: Sulaxono Hadi
Senior Epidemiologist, BPPV Regional V Banjarbaru Kalimantan Selatan
Gerak cepat telah dilakukan hingga akhir 2007 lalu untuk memutus mata rantai penularan AI pada itik alabio

klik di sini



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar