Minggu, 06 November 2016

Roadmap Pengembangan Buah naga di Kabupaten Tanah Laut, Tahun 2016

1               Latar belakang
 Buah naga (Inggris : pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko,  Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun sekarang juga dibudidayakan di Negara negara  Asia seperti  Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia dan Malaysia. Buah ini juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia utara dan Tiongkok selatan. Hylocereus hanya mekar pada malam hari. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Buah_naga).
            Buah naga merupakan salah satu buah yang mulai berkembang di Kabupaten Tanah laut. Tanaman Buah naga Masuk ke Tanah laut sekitar tahun 2009-2010, didatangkan dari Jawa Timur, dan Yogyakarta yang dibudidayakan oleh petani di desa Tampang, Sumber Mulia Kecamatan Pelaihari, selanjutnya buah naga cepat menyebar ke beberapa kecamatan bahkan sampai meluas ke luar kabupaten melalui penjuatan bibit buah naga, seperti Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Banjar, Benua Lima ( HST, HSS, Tabalong, dan Balangan).
            Buah naga sangat cocok dibudidayakan di daerah tropis seperti di kabupaten Tanah laut dan memiliki nilai gizi dan nilai ekonomi yang tinggi. Setiap 100 gram buah naga mengandung : Energi 394 kal, Protein 3.300 mg, Lemak 28.100 mg, Karbohidrat 31.900 mg, Serat 20.900 mg, Kalsium 544 mg, Fosfor 30 mg, Besi, 2.5 mg, Karoten 200.000 mg, Vitamin B1 0.96 mg, Vitamin C 15.70 mg, Niasin 1.8 mg dan Air 34.900 mg.
Dengan komposisi itu buah naga dipercaya berkhasiat dapat menyeimbangkan gula darah, mencegah kanker usus, melindungi kesehatan mulut, menurunkan kolesterol, menguatkan fungsi ginjal dan tulang, mencegah pendarahan, sehingga secara keseluruhan peningkatan daya tahan tubuh. 
Kabupaten Tanah Laut memiliki potensi yang besar untuk pengembangan buah naga untuk pasar lokal, dan regional. Hal ini disebabkan Kabupaten Tanah laut memiliki iklim tropis sesuai dengan iklim yang dibutuhkan tanaman ini, untuk tumbuh dengan baik, dan produktivitas secara optimal. Saat ini kebutuhan buah naga di Kabupaten Tanah laut cukup besar, perkiraan kebutuhan buah naga tahun 2016 adalah 500 kg perbulan atau 6 ton per tahun. Dan pada tahun berikutnya 2017 mencapai 8 ton pertahun, kebutuhan tersebut belum mampu  dipenuhi oleh produsen di Kabupaten Tanah Laut, sehingga terbuka lebar untuk pasaran local maupun regional dari daerah kabupaten, provinsi lainnya.  Peluang pasar sangat menjanjikan untuk konsumsi segar tetapi juga produk olahan (konsumsi dan kesehatan).  Produksi dan produktivitas budidaya buah naga dapat ditingkatkan bila petani / produsen telah mampu menerapakan, SOP, GAP dan PHP tanaman buah Naga.

Dalam era perdagangan bebas, buah naga mempunyai kesempatan besar mengisi pasar internasional. Namun buah naga di Indonesia belum mampu bersaing. Hal ini disebabkan karena produksi dan mutu yang dihasilkan masih rendah, belum adanya jaminan  pasokan produk bermutu, masih lemahnya akses pasar. Kabupaten Tanah laut perlu meningkatkan kemampuan berproduksi buah naga yang berkualitas tinggi dalam jumlah yang memadai, sehingga dapat menggantikan peran buah impor di pasar regional dan mencukupi gizi, juga akan membuka peluang bagi ekspor buah naga.
Dalam rangka pengembangan agribisnis buah naga di kabupaten untuk meningkatkan daya saing khususnya di pasar regional, maka perlu arah atau pedoman pengembangan buah naga Kabupaten (roadmap). Dalam roadmap tercermin tujuan pengembangan, sasaran, waktu pencapaian dan alternative pencapaian dengan mengantisipasi peluang dan tantangan. Pencapaian tujuan dan sasaran dalam roadmap dapat dicapai melalui adanya system pembiayaan efisien, pengorganisasian dan pemanfaatan semua faktor sumber daya serta sinergi dari semua pihak kompeten
Pengembangan buah naga di Kabupaten Tanah Laut dikelompokan ke dalam tiga tahap, yaitu jangka pendek (2020), jangka menengah (2025) dan jangka panjang (2030). Target yang akan dicapai pada masing masing tahap pengembangan, yaitu :


  1. Jangka Pendek (2016 - 2020), diharapkan luas panen 150 ha, produksi 900 ton, produktivitas mencapai 10 ton/ha, pasar  regional 10 %, lokal 90 %.
  2. Jangka menengah (2020 - 2025) luas panen 250, produksi 3.750 ton dan produktivitas 15 ton/ha, pasar lokal 80 % dan regional 20 %.
  3. Jangka panjang (2025 - 2030) luas panen 500 ha, produksi 10.000 ton dan produktivitas 20 ton/ha. Pasar local 70 % dan regional 30 %.

  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar