Click here for Myspace Layouts

Senin, 07 November 2016

Tehnik Budidaya Buah naga

 Pendahuluan

Buah Naga (Hylocereous costaricensis) merupakan spesies tanaman terna memanjat perennial yang termasuk dalam keluarga kaktus - kaktusan (Cactaceae). Tanaman ini diduga berasal dari kawasan hutan tropis dan subtropics Meksiko dan Amerika Selatan. Selanjutnya tanaman buah naga menyebar ke kawasan tropis dan sub tropis benua Amerika, Asia, Australia dan Kawasan Timur Tengah. Sampai awal tahun 2000 an tanaman buah naga sudah dibudidayakan sedikitnya oleh 22 negara tropis dan subtropics. Sekitar akhir tahun 2000 tanaman buah naga masuk ke Indonesia di introduksi dari Thailand. Selanjutnya diuji Tanam di beberapa daerah Bogor, Jember, malang, Mojokerto dan Yogyakarta. Tanaman Buah naga masuk ke kabupaten Tanah Laut sekitar tahun 2009 - 2010 yang didatangkan dari Banyuwangi, Lumajang, dan Yogyakarta. Perkembangan selanjutnya menyebar secara cepat beberapa tempat di dalam Kabupaten Tanah Laut seperti Pelaihari, Batu Ampar, Panyipatan, Takisung dan Tambang Ulang.
        Buah Naga merupakan salah satu komoditas buah yang memiliki keunggulan komparatif antara lain :
  1.       Umur produksi relative pendek, umumnya di Kabupaten Tanah Laut buah naga mulai berbuah pada umur 9 - 14 bulan setelah tanam.
  2.     Dapat tersedia sepanjang tahun, tanaman buah naga yang ditanam dikawasan dekat garis khatulistiwa dapat berbuah sepanjang tahun.
  3.     Karena tersedia relatif sepanjang tahun, buah naga dapat berfungsi sebagai penyangga buah musiman lainnya dan juga penahan  buah impor.
  4.     Penggunaan buah buah naga relative luas, umumnya dikonsumsi oleh rumah tangga dan hotel hotel, catering.
  5.     Buah yang bernilai ekonomi dibanding buah buahan local harga jual buah naga cukup tinggi
  6.      Berpotensi sebagai komoditas ekspor, permintaan buah naga pasar global cukup besar.


Persyaratan Tumbuh Tanam
  •      Curah hujan 500-1.500 mm/tahun, dengan bulan basah dan bulan kering jelas.
  •      Suhu udara 26°-36°C
  •      Kelembaban 70-90%.
  •      Ketinggian lahan sekitar  10 -700  m dpl.
  •     Textur tanah pasir 10-30%
  •     Rata-rata pH tanah antara 6.5-7.0
  •     Intensitas sinar matahari 70—80%.

Tiang panjatan

Dapat dibuat dari
o   Beton
o   Kayu
o   Tanaman Hidup.

Tinggi tiang minimum 2 meter
 Untuk mengatur keseimbangan arah sulur dapat dipasang tudung
o   beton persegi
o   besi beton
o   ban bekas

Persiapkan tiang penopang untuk tegakan tanaman, karena tanaman ini tidak mempunyai batang primer yang kokoh. Dapat menggunakan tiang dari kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang ditancapikan ke tanah sedalam 50 cm. Ujung bagian atas dari tiang penyangga diberi besi yang berbentuk lingkaran untuk penopang dari cabang tanaman Sebulan sebelum tanam, terlebi dahulu dibuatkan lubang tanan dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam  bervariasi
  1.       Pengolahan tanah diawali dengan pembersihan gulma, dan sisa tanaman pada jalur penanaman.
  2.     Tetapkan tempat lubang tanam, dengan jarak dalam barisan 2.5 m, dan jarak antar barisan 2,5-3.0 m.
  3.        Buat lubang tiang pancang seukuran tiang, sedalam 25-30 cm
  4.        Buat lubang tanam berukuran 50 cm x 50 cm, sedalam 25-30 cm.
  5.      Biarkan selama 1-2 minggu


 Setiap tiang/pohon penyangga itu dibuat 3 – 4 Lubang tanarn dengan jarak sekitar 30 cm dari tiang penyangga. Lubang tanam tersebut kemudian diberi pupuk kandang yang masak sebanyak 5 – 10 kg dicampur dengan tanah

Persiapan bibit dan penanaman



Syarat Pohon Induk
a.      Jelas Varietas
b.      Sudah Berbuah 2 kali
c.       Seragam pertumbuhan dan buah
d.      Bebas Penyakit tular benih :
·         Busuk sulur (Erwinia carotovora)
·         Antraknosa (Colletotricum gleosporides)
·         Bercak Sulur (Botryoshaeria dothidea)

1.      Pemeliharaan
Pengaturan Letak dan Pengikatan Cabang
§  Pengaturan letak dan cabang bertujuan agar pertumbuhan tanaman menjadi normal dan membentuk payung yang baik.
§  Pengikatan cabang dilakukan saat panjangnya 21-25 cm dengan bentuk ikatan berupa angka 8 (tali wangsul).
§  Agar cabang atau batang tidak terjepit atau patah sebaiknya ikatan tidak terlalu kencang

      Pemangkasan
§  Pemangkasan dilakukan terhadap:
o   Cabang sekunder (cabang tumbuh dari cabang utama/primer) yang tumbuh dibawah tajuk.
o   Cabang yang tidak produktif (siwing).
o   Cabang yang telah berumur lebih dari 2 tahun.
o   Sulur-sulur yang terhalang mendapatkan sinar matahari
§  Pemangkasan dapat dilakukan untuk membentuk batang Utama dan membentuk cabang produksi.
§  Pemangkasan dilakukan terhadap sulur yang terserangan penyakit.
§  Kumpulkan bekas pangkasan pada bagian luar kebun paling rendah

  Pemupukan
§  Pada awal tanam diberikan pupuk dasar (NPK) sebanyak 20 g dan pupuk organik sebanyak 10 kg per tiang rumpun.
§  Pemupukan berikutnya dilakukan :
o   Untuk tanaman yang menggunakan tiang panjatan dari beton pemberian pupuk kandang dilakukan setiap 4 bulan sekali sebanyak 10 kg.
o   Untuk tanaman dengan tiang panjatan hidup  pemberian pupuk kandang dilakukan setiap 6 bulan sekali sebanyak 10 kg.
§  Kebutuhan pupuk disesuaikan kondisi lahan dan tahap perkembangan tanaman.
§  Sebelum pemupukan lakukan sanitasi lahan
§  Setelah diberi pupuk, tanaman dibumbun.
Pengendalian OPT
§  Lakukan pengamatan dan identifikasi terhadap OPT di lahan secara berkala.
§  Tentukan alternatif tindakan yang perlu segera dilakukan.
o   Teknis budidaya (meliputi penentuan waktu tanam, pola tanam, tanam serempak dan perbaikan cara budidaya)
o   Pengendalian cara fisik/mekanis/trap.
o   Pengendalian cara biologis (pemanfaatan agensia hayati)
§  Pengendalian secara kimiawi (penggunaan perstisida alternatif terakhir)

2.      Panen
            Setelah tanaman umur 1,5 – 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri – ciri warna kulit merah mengkilap, jumbai / sisik berubah warna dari hijau menjadi kernerahan. Pemanenan dilakulkan dengan menggunakan gunting, buah dapat dipanen saat buah mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar Dalam 2 tahun pertama. setiap tiang penyangga mampu menghasilkan buah 8 s / d 10 buah naga dengan bobot sekitar antara 400 – 650 gram, Musim panen terbesar buah naga terjadi pada bulan September hingga Maret, Umur produktif tanaman buah naga ini berkisar antara 15 – 20 tahun, Untuk sistem pengairan pada lahan disesuaikan dengan kondisi lahan, system cara tanamnya, dan pengadaan sumber air yang ada disekitar lahan.




Sortasi
Buah dipisahkan antara yang rusak, busuk atau cacat dan yang utuh.
Buah yang utuh dipisahkan berdasarkan ukuran menggunakan alat sortir berupa gelang yang terbuat dari plastik atau karton tebal dengan standar sebagai berikut :
·         Kelas Super dengan bobot di atas 700 g
·         kelas A dengan bobot buah antara > 500-700 g
·         kelas B dengan bobot buah antara 350-500 g
Buah yang sudah disortir dimasukkan dalam kardus yang sudah disiapkan.
Penyimpanan terbaik pada suhu 100C, direndam air hangat 550C dan dibungkus palstik tanpa lubang


Minggu, 06 November 2016

Roadmap Pengembangan Buah naga di Kabupaten Tanah Laut, Tahun 2016

1               Latar belakang
 Buah naga (Inggris : pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko,  Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun sekarang juga dibudidayakan di Negara negara  Asia seperti  Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia dan Malaysia. Buah ini juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia utara dan Tiongkok selatan. Hylocereus hanya mekar pada malam hari. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Buah_naga).
            Buah naga merupakan salah satu buah yang mulai berkembang di Kabupaten Tanah laut. Tanaman Buah naga Masuk ke Tanah laut sekitar tahun 2009-2010, didatangkan dari Jawa Timur, dan Yogyakarta yang dibudidayakan oleh petani di desa Tampang, Sumber Mulia Kecamatan Pelaihari, selanjutnya buah naga cepat menyebar ke beberapa kecamatan bahkan sampai meluas ke luar kabupaten melalui penjuatan bibit buah naga, seperti Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Banjar, Benua Lima ( HST, HSS, Tabalong, dan Balangan).
            Buah naga sangat cocok dibudidayakan di daerah tropis seperti di kabupaten Tanah laut dan memiliki nilai gizi dan nilai ekonomi yang tinggi. Setiap 100 gram buah naga mengandung : Energi 394 kal, Protein 3.300 mg, Lemak 28.100 mg, Karbohidrat 31.900 mg, Serat 20.900 mg, Kalsium 544 mg, Fosfor 30 mg, Besi, 2.5 mg, Karoten 200.000 mg, Vitamin B1 0.96 mg, Vitamin C 15.70 mg, Niasin 1.8 mg dan Air 34.900 mg.
Dengan komposisi itu buah naga dipercaya berkhasiat dapat menyeimbangkan gula darah, mencegah kanker usus, melindungi kesehatan mulut, menurunkan kolesterol, menguatkan fungsi ginjal dan tulang, mencegah pendarahan, sehingga secara keseluruhan peningkatan daya tahan tubuh. 
Kabupaten Tanah Laut memiliki potensi yang besar untuk pengembangan buah naga untuk pasar lokal, dan regional. Hal ini disebabkan Kabupaten Tanah laut memiliki iklim tropis sesuai dengan iklim yang dibutuhkan tanaman ini, untuk tumbuh dengan baik, dan produktivitas secara optimal. Saat ini kebutuhan buah naga di Kabupaten Tanah laut cukup besar, perkiraan kebutuhan buah naga tahun 2016 adalah 500 kg perbulan atau 6 ton per tahun. Dan pada tahun berikutnya 2017 mencapai 8 ton pertahun, kebutuhan tersebut belum mampu  dipenuhi oleh produsen di Kabupaten Tanah Laut, sehingga terbuka lebar untuk pasaran local maupun regional dari daerah kabupaten, provinsi lainnya.  Peluang pasar sangat menjanjikan untuk konsumsi segar tetapi juga produk olahan (konsumsi dan kesehatan).  Produksi dan produktivitas budidaya buah naga dapat ditingkatkan bila petani / produsen telah mampu menerapakan, SOP, GAP dan PHP tanaman buah Naga.

Dalam era perdagangan bebas, buah naga mempunyai kesempatan besar mengisi pasar internasional. Namun buah naga di Indonesia belum mampu bersaing. Hal ini disebabkan karena produksi dan mutu yang dihasilkan masih rendah, belum adanya jaminan  pasokan produk bermutu, masih lemahnya akses pasar. Kabupaten Tanah laut perlu meningkatkan kemampuan berproduksi buah naga yang berkualitas tinggi dalam jumlah yang memadai, sehingga dapat menggantikan peran buah impor di pasar regional dan mencukupi gizi, juga akan membuka peluang bagi ekspor buah naga.
Dalam rangka pengembangan agribisnis buah naga di kabupaten untuk meningkatkan daya saing khususnya di pasar regional, maka perlu arah atau pedoman pengembangan buah naga Kabupaten (roadmap). Dalam roadmap tercermin tujuan pengembangan, sasaran, waktu pencapaian dan alternative pencapaian dengan mengantisipasi peluang dan tantangan. Pencapaian tujuan dan sasaran dalam roadmap dapat dicapai melalui adanya system pembiayaan efisien, pengorganisasian dan pemanfaatan semua faktor sumber daya serta sinergi dari semua pihak kompeten
Pengembangan buah naga di Kabupaten Tanah Laut dikelompokan ke dalam tiga tahap, yaitu jangka pendek (2020), jangka menengah (2025) dan jangka panjang (2030). Target yang akan dicapai pada masing masing tahap pengembangan, yaitu :


  1. Jangka Pendek (2016 - 2020), diharapkan luas panen 150 ha, produksi 900 ton, produktivitas mencapai 10 ton/ha, pasar  regional 10 %, lokal 90 %.
  2. Jangka menengah (2020 - 2025) luas panen 250, produksi 3.750 ton dan produktivitas 15 ton/ha, pasar lokal 80 % dan regional 20 %.
  3. Jangka panjang (2025 - 2030) luas panen 500 ha, produksi 10.000 ton dan produktivitas 20 ton/ha. Pasar local 70 % dan regional 30 %.

  

Senin, 29 Agustus 2016

Itik Parent ALABIO DAN MOJOSARI

Itik RATU dan RAJA
Sehubungan dengan tidak di produksi itik varietas unggul yang dikeluarkan oleh BPTU Pelaihari, Tambang Ulang Kabupaten Tanah Laut yaitu itik Petelur Ratu dan Itik Pedaging Raja.
Bila anda ingin mencari, ingin beternak itik jenis petelur Ratu sekarang tidak ada lagi  digangti dengan itik Alabio dan Mojosari
Selamat beternak itik....sukses menyertai anda.

SEkarang ada stock  produksi jenis itik unggul yang sejak lama terkenal di Indonesia yaitu Itik Alabio dan Itik Mojosari, mulai tahun 2015, 2016 ini telah tersedia itik Parent ( siap bertelur) dengan tabel harganya
Informasi lengkap dapat anda lihat, baca atau download foto berikut :








Jumat, 11 Desember 2015

MATERI IX. PENGAIRAN

Judul                                  :
Hari/Tanggal                     :          
Jam                                    :
Petugas                              :
Jumlah Peserta                 :

A.  Definisi
       Mengatur pemberian air bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

B.  Tujuan
     Terpenuhinya kebutuhan air yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

C.  Bahan, Alat dan Fungsi
a)   Air.
b)   Pompa air digunakan untuk memompa air dari sumber air (tanah, embung).
c)   Selang air untuk mengalirkan air ke areal pertanaman melalui parit-parit.
d)  Ember untuk menyiramkan air dari parit kepermukaan bedengan yang sudah ditanami.
e)   Alat tulis dan blanko isian.

  D Prosedur Pelaksanaan
a)    Pemberian air dilakukan dengan penyiraman di lubang tanaman atau dileb/digenangi secara berkala (sesuai kebutuhan, untuk tanah lempung interval waktunya lebih lama (15 hari) dan untuk tanah berpasir interval waktunya lebih pendek (7 hari).
b)   Lakukan pencatatan semua kegiatan.

 E Sasaran
            Kebutuhan air bagi tanaman terpenuhi.