Jumat, 08 Januari 2010

KOMPONEN TEKNOLOGI PRODUKSI


Mengingat tanaman jagung dapat diusahakan baik pada lahan kering maupun lahan sawah (tadah hujan atau irigasi) maka komponen teknologi alternatif yang dapat diterapkan dalam produksi jagung terkait dengan pengembangan PTT terdiri atas:


  1. Varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan, dan keinginan petani setempat, baik jenis komposit/bersari bebas ataupun hibrida.
  2. Benih bermutu (kemurnian/bersertifikat dan daya kecambah > 95%), diberi perlakuan benih (seed treatment) dengan metalaksil 2 g (bahan produk) per 1 kg benih.
  3. Kebutuhan benih 15 – 20 kg/ha tergantung ukuran benih, semakin kecil ukuran benih bobot 1000 biji < 200 g) semakin sedikit kebutuhan benih. 
  4. Populasi tanaman sekitar 66.600 tanaman/ha, jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman/lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman/lubang. 
  5. Pemupukan Nitrogen (N) berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). 
  6. Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis
    laboratorium.
  7. Bahan organik (pupuk kandang 1,5 – 2,0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam. 
  8. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan). 
  9.  Pemberian air melalui saluran-saluran dan dilakukan sesuai kebutuhan (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau).
  10. Pengendalian gulma secara terpadu. 
  11.  Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT).
  12.   Panen dan prosesing dengan alat pemipil. 

Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi tersebut dapat dibedakan menjadi dua bagian: (1) teknologi untuk tujuan memcahkan masalah setempat atau spesifik lokasi, dan (2) teknologi untuk perbaikan cara budi daya yang efisien. Dalam penerapannya tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang mempunyai masalah spesifik. Ada lima komponen teknologi yang dapat diterapkan secara bersamaan (compulsory) sebagai penciri model PTT jagung, yaitu:
  1. Varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan, dan keinginan petani setempat, baik jenis komposit/bersari bebas ataupun hibrida. 
  2. Benih bermutu (kemurnian/bersertifikat dan daya kecambah > 95%), diber perlakuan benih (seed treatment) dengan metalaksil 2 g (bahan produk) pe 1 kg benih.
  3. Populasi tanaman sekitar 66.600 tanaman/ha, jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 tanaman/lubang atau 75 cm x 20 cm 1 tanaman/lubang.
  4. Pemupukan Nitrogen (N) berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai hasil analisis laboratorium. Bahan organik (pupuk kandang 1,5 – 2,0 t/ha) sebagai penutup benih pada lubang tanam untuk pemecahan masalah kesuburan tanah terutama pada lahan kering masam.
  5. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan) atau saluran distribusi air (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau).
Jika kelima komponen teknologi tersebut diterapkan secara bersamaan, sumbangan terhadap peningkatan produksi dan efisiensi produksi jagung cukup besar.

Sumber buku : BUKU PTT Jagung dari Balai Peneltilia Serea, Badan Penelitian Pengembangan Pertanian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar