Selasa, 12 Januari 2010

TINJAUAN TEKNIS Penyakit Bulai Jagung



Penyakit bulai (downey mildew), yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis, merupakan penyakit yang penting, karena tanaman yang tertular tidak menghasilkan biji sama sekali. Penyakit ini telah dikenal di Indonesia terutama di Jawa sejak tahun 1897 (Semangoen, 1968). Di Lampung pada musim tanam 1973/74 dan 1996/97, penyakit bulai menginfeksi pertanaman jagung dalam areal yang cukup luas (Subandi et al., 1998). 
Perkembangan penyakit bulai dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara. Kelembaban di atas 80%, suhu 28-30oC dan adanya embun ternyata dapat mendorong perkembangan penyakit. Infeksi oleh Sclerospora maydis pada jagung dilakukan oleh konidia melalui stomata. Konidia ini terbentuk pada jam 1:00 s/d 2:00 pagi apabila suhu 24oC dan permukaan daun tertutup embun. Konidia yang sudah masak akan disebarkan oleh angin pada jam 2:00 s/d 3:00 pagi dan berlang-sung sampai jam 6:00 s/d 7:00 pagi. Konidia yang disebarkan oleh angin, apabila jatuh pada permukaan daun yang berembun, akan segera berkecambah. Gejala tergantung pada saat terjadinya infeksi dan perkembangan cendawan dalam ba-dan tanaman. Apabila cendawan dapat mencapai gulungan daun, gejala menjadi sistemik, bila tidak gejalanya lokal pada bagian yang terinfeksi.

Gambar 1 . Tanaman Jagung terserang sejak awal diperkirakan berasal dari benih
Gambar 2. Pertanaman Jagung berumur libh dari 3 minggu tertular Penyakit Bulai

Penyakit bulai merupakan penyakit jagung yang paling berbahaya. Penyebarannya sangat luas, meliputi semua daerah penghasil jagung di dunia seperti Filipina, Thailand, India, Indonesia, Afrika, dan Amerika. Kehilangan hasil dapat mencapai 90% (Shurtleff 1980).

Beberapa penyebab mewabahnya penyakit bulai:
 1). Penanaman varietas jagung rentan bulai;
2). Penanaman jagung berkesinambungan;
3). Efektivitas fungisida rendah akibat dosis dikurangi atau dipalsukan;
4). Tidak adanya tindakan eradikasi;
5). Adanya resistensi bulai terhadap fungisida metalaksil; dan
6). Peningkatan virulensi bulai terhadap tanaman inang jagung.


 Pengenalan secara lengkap Penyakit Bulai
Gejala
Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal (Gambar 1a). Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik, tampak dengan jelas pada pagi hari. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali.
Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek.

Penyebab
Shurtleff (1980), Wakman dan Djatmiko (2002), serta Rathore dan Siradhana (1988) melaporkan bahwa penyakit bulai pada jagung dapat disebabkan oleh 10 spesies dari tiga generasi yaitu:
1. Peronosclerospora maydis (Java downy mildew)
2. P. philippinensis (Philippine downy mildew)
3. P. sorghi (Sorghum downy mildew)
4. P. sacchari (Sugarcane downy mildew)
5. P. spontanea (Spontanea downy mildew)
6. P. miscanthi (Miscanthi downy mildew).
7. P. heteropogoni (Rajasthan downy mildew)
8. Sclerophthora macrospora (Crazy top)
9. S. rayssiae var. zeae (Brown stripe)
10. Sclerospora graminicola (Graminicola downy mildew)

Siklus Hidup
Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidak begitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor (Gambar 1b) dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora,
daun kotiledon tetap sehat.


Epidemiologi
Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap, dan suhu tertentu, P. maydis di bawah suhu 24 o C, P. philippinensis 21-26 o C, P. sorghi 24-26 o C, P. sacchari 20-25o C, S. rayssiae 20-22 o C, S. graminicola 17-34 o C, dan S. macrospora 24-28 o C.

Tanaman Inang
Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari pathogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa, Digitaria spp., Euchlaena spp., Heteropogon contartus, Panicum spp., Setaria spp., Saccharum spp., Sorghum spp., Pennisetum spp., dan Zea mays.

Pengendalian
Teknologi pengendalian penyakit bulai pada jagung yang umum diterapkan adalah:
·         Penggunaan varietas tahan (Balitsereal 2005)
·         Pemusnahan tanaman terinfeksi
·         Pencegahan dengan fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil
·         Pengaturan waktu tanam agar serempak
·         Pergiliran tanaman.

2 komentar:

  1. Asslmlkm,

    Salam,

    Kebetulan kami berhasil mengendalikan hama Bule pada jagung all varietas. Uji Coba kami menggunakan pupuk organik HOSC ( http://www.pupukhosc.blogspot.com )

    Semoga menjadi solusi.

    Wahyu
    SAVE OUR NATURE FOR NEXT GENERATIONS

    BalasHapus
  2. tulisan yang bagus pak syaiful... sedikit koreksi, mungkin akan lebih tepat jika penulisan nama ilmiah menggunakan huruf miring.

    gambar 1; mungkin lebih tepat kalau "Tanaman Jagung terserang sejak awal diperkirakan akibat varietas yang sudah atau memang rentan". karena menurut saya, bulai tidak dibawa benih/biji. tetapi, ketahanan secara genetis dan lokasi budidaya yang bukan endemis merupakan faktor dominan terhindarnya pertanaman jagung dari bulai.

    @wahyu;
    a. menarik untuk dibuktikan, apakah benar bahan organik Anda mampu mengendalikan penyakit bulai?
    b. pembuktian sebaiknya dilakukan pada daerah endemis ataupun daerah yang baru mengalami serangan bulai, dan pada musim tanam yang bersamaan dengan terjadinya serangan bulai.
    c. kebetulan daerah saya termasuk dalam "peta baru" wabah bulai. tahun lalu, hampir seluruh areal tanam mengalami serangan dengan +/- 50% mengalami gagal panen. alhamdulillah, saya masih bisa panen 100% alias tanpa bulai meskipun pertanaman teman-teman petani disekitar areal tanam terserang bulai. yang saya lakukan;
    - pilih varietas.
    - pengolahan tanah.
    - perlakuan benih.
    - pemupukan berimbang dan tepat sesuai stadia.
    - pemeliharaan meliputi aplikasi pestisida secara terpadu dan sanitasi areal pertanaman.

    saya tidak berani mengklaim, bahwa karena metode yang saya terapkan tersebut telah mampu memberikan hasil panen 100%. mungkin saja kebetulan, dan yang pasti karena kuasa Alloh.

    dinar
    banyumas, jateng

    BalasHapus