Jumat, 19 Mei 2017

Materi 10 Pengendalian OPT Khusus Penyakit Cabai Merah dan Rawit

1. Penyakit Layu Bakteri ( Ralstonia solanacearum)

Gejala serangan :
Layu pada pucuk daun kemudian menjalar ke bagian bawah daun sampai seluruh daun menjadi layu dan akhirnya tanaman menjadi mati. Jaringan pembuluh batang bagian bawah dan akar menjadi kecoklatan. Apabila batang dan akar yang terserang dipotong melintang dan dicelupkan ke dalam air jernih tampak mengeluarkan cairan keruh yang merupakan koloni bakteri. Serangan pada buah menyebabkan warna buah cabai menjadi kekuningan dan busuk. Infeksi terjadi melalui lentisel dan akan cepat berkembang jika ada luka mekanis akibat gigitan hama dan faktor lainnya. Penyakit layu bakteri ini berkembang sangat cepat pada musim hujan.
           
  Pengendalian :
a. Melakukan sanitasi dengan mengeradikasi tanaman yang terserang dan sisa-sisa tanaman sakit dicabut dan dimusnahkan.
b. Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang bagi bakteri Ralstonia solanacearum.
c. Memperbaiki aerasi tanah agar tidak terjadi genangan air dan kelembaban yang cukup tinggi, dengan membuat guludan setinggi 40- 50 cm.
d. Penurunan pH tanah dengan pemberian belerang pada areal pertanaman
e. Menanam varietas cabai merah yang sehat dan tahan penyakit layu bakteri
f.  Memanfaatkan agens antagonis Trichoderma spp  danGliocladium spp.
g. Mekanisme pengendaliannya melalui hiperparasit, antibiosis dan lisis serta melalui persaingan. Aplikasi pada kantong persemaian sebanyak 5 grm per kantong, diaplikasikan 3 hari sebelum benih ditanam atau bersamaan dengan penanaman benih.
h. Memanfaatkan mikroba antagonis Pseudomonas fluorescens.
I. Apabila cara–cara pengendalian lainnya tidak dapat menekan serangan penyakit ini dapat digunakan fungisida yang efektif dan sesuai anjuran.
           
           
2. Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f. sp)

Gejala serangan :
Tanaman menjadi layu mulai dari bagian bawah dan anak tulang daun menjadi menguning. Apabila infeksi berkembang, tanaman menjadi layu dalam waktu 2 – 3 hari setelah infeksi. Warna jaringan akar dan batang menjadi coklat.Tempat terjadinya luka tertutup hifa berwarna putih seperti kapas. Jika serangan terjadi pada saat pertumbuhan sudah maksimum, tanaman masih dapat menghasilkan buah. Bila serangan sudah mencapai batang, buah menjadi kecil dan gugur. Penyebaran penyakit melalui spora yang diterbangkan angin dan air. Tanaman inang lainnya adalah kacang panjang, kubis, ketimun dan bawang merah.
           
 Pengendalian :
a. Sanitasi dengan mengeradikasi tanaman yang terserang kemudian dicabut dan
dimusnahkan.
b.Memperbaiki pengairan untuk mencegah terjadinya genangan air dan kelembaban yang tinggi, dengan membuat guludan setinggi 40 – 50 cm.
c. Menggunakan benih yang sehat
d. Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang damemusnahkan gulmaCyperus sebagai inang “perfect stage” dari cendawan.
e. Memanfaatkan agens hayati Trichodermaspp  danGliocladium spp.
f. Apabila cara lain tidak dapat menekan serangan penyakit ini dapat digunakan fungisida yang efektif, terdaftar dan dianjurkan.
           

3. Penyakit busuk buah antraknosa 
    ( Colletotrichum capsici, C. gloeosporioides dan Gloeosporium piperatum)

Gejala serangan :
Gejala serangan awal berupa bercak coklat kehitaman pada permukaan buah, kemudian menjadi busuk lunak. Bagian tengah buah tampak bercak kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok seta dan konidium. Serangan berat menyebabkan seluruh buah keriput dan mengering. Warna kulit buah menyerupai jerami padi. Dalam kondisi cuaca panas dan lembab dapat mempercepat perkembangan penyakit.
           
Pengendalian :
a. Perlakuan biji dengan cara merendam biji dalam air panas (55° C) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik golongan Triazole dan Pyrimidin (0.05 – 0.1%).
b. Sanitasi rumput-rumput/gulma dan buah cabai merah yang terserang penyakit
         busuk buah dikumpulkan kemudian dimusnahkan.
c. Menanam benih yang bebas patogen pada lahan yang tidak terkontaminasi oleh patogen penaykit busuk buah antraknosa, baik di persemaian maupun di lapangan
d. Menanam cabai merah varietas genjah untuk menghindari infeksi, yaitu usaha memperpendek periode ekspose tanaman terhadap sumber inokulum.
e. Melakukan pergiliran tanam dengan tanaman yang bukan solanaceae
f. Melakukan perbaikan drainase tanah
g. Memanfaatkan agens antagonis Trichoderma spp dan Gliocladium spp, Aplikasi pada kantong persemaian sebanyak 5 grm per kantong. diaplikasikan 3 hari sebelum benih ditanam atau bersamaan dengan penanaman benih.
h.Memanfaatkan mikroba antagonis Pseudomonas fluorescens  danBacillussubtilis, diaplikasi mulai fase pembungaan hingga 2 minggu setelah pembungaan dengan selang waktu 1 minggu.
i. Apabila gejala serangan penyakit pada buah semakin meluas dapat digunakan fungisida yang efektif dan sudah terdaftar/dianjurkan.
           
           
4. Penyakit bercak daun (Cercospora capsici)

Gejala serangan :
Penyakit bercak daun dapat timbul pada tanaman muda di persemaian, dan cenderung lebih banyak menyerang tanaman tua. Pada musim kemarau dan pada lahan yang mempunyai drainase baik, penyakit layu kurang berkembang. Daun yang terinfeksi dapat berubah menjadi kuning dan gugur ke tanah. Pada daun yang terserang tampak bercak kecil berbentuk bulat dan kering. Bercak tersebut meluas sampai diameter sekitar 0,5 cm. Pusat bercak berwarna pucat sampai putih dengan warna tepi lebih tua. Bercak yang tua dapat menyebabkan lubang-lubang. Apbaila terdapat banyak bercak, daun cepat menguning dan gugur atau langsung gugur tanpa menguning lebih dahulu. Bercak sering terdapat pada tangkai daun, batang, sedangkan serangan pada buah jarang ditemukan. Penyakit ini kadang-kadang menyerang cabai pada waktu persemaian.
           
Pengendalian :
a. Sanitasi dengan cara memusnahkan daun atau sisa-sisa tanaman yang terinfeksi
b. Menanam benih yang bebas patogen pada lahan yang tidak terkontaminasi oleh patogen, baik dipersemaian maupun di lapangan
c. Waktu tanam yang tepat adalah musim kemarau dengan irigasi yang baik.
d. Aplikasi fungisida secara bijaksana dan hanya bila diperlukan (sesuai dengan rekomendasi)

  5. Penyakit Virus
Penyakit virus yang menyerang tanaman cabai merah di Indonesia dapat disebabkan oleh satu jenis atau gabungan beberapa jenis virus, antara lain Virus Mosaik Tembakau (Tobacco Mosaic Virus = TMV), Virus Belang Urat Daun (Chilli Veinal Mottle Virus = CVMV), Virus Mosaik Mentimun (Cucumber Mosaic Virus = CMV), Geminivirus (Tomato yellow leaf curl virus = TYLCV), Virus mengkerut kerdil cabai merah (CVSV), Virus mozaic tomat (ToMV).
           
5.1 Penyakit virus kuning yang disebabkan oleh YLCV

Gejala Serangan :
Kelompok geminivirus (TYLCV) adalah helai daun mengalami vein clearing, dimulai dari daun-daun pucuk, berkembang menjadi warna kuning yang jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas. Infeksi lanjut dari geminivirus menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah.
           
Pengendalian :
a. Pemupukan berimbang yaitu 150 – 200 kg urea, 450-500 kg ZA, 100-150 kg TSP, 100-150 KCl dan 20-30 ton pupuk organik/ha.
b. Menggunakan benih yang sehat(tidak mengandung virus) atau bukan dari daerah yang terserang
c. Melakukan rotasi tanaman dengan tanaman bukan dari famili solanaceae dan cucurbitaceae.
d. Eradikasi tanaman yang sakit.
e. Sanitasi lingkungan disekitar pertanaman, termasuk penyiangan gulma dan tanaman liar lainnya yang dapat menjadi inang sementara bagi virus atau inang bagi vektor.
f. Menggunakan benih yang sehat.

    Langkah-langkah yang dianjurkan untuk melindungi benih cabai merah dari serangga vektor adalah :

  1) Dengan pengerudungan menggunakan kain atau nilon kerapatan 30-50 mesh;
            2) tempat persemaian yang terisolasi jauh dari lahan yang terserang penyakit;
 3) semai dilindungi dengan pestisida nabati seperti nimba, ekstrak tembakau atau dengan pestisida kimiawi secara bijaksana.
         
g. Praktek budidaya, antara lain :
             1) pengendalian dengan perangkap warna kuning berperekat;
             2) pengendalian dengan mulsa plastik pemantul sinar ultraviolet

h. Melakukan penyemprotan serangga vektor dengan insektisida sesuai anjuran.
           
  5.2 Penyakit Virus kerupuk :

Gejala Serangan
Pada tanaman muda dimulai dengan daun yang melengkung ke bawah.Pada umur selanjutnya gejala melengkung lebih parah disertai kerutan-kerutan.Daun berwarna hijau pekat mengkilat dan permukaan tidak rata. Pertumbuhan terhambat, ruas jarak antar tangkai daun lebih pendek terutama di bagian pucuk sehingga daun menumpuk dan bergumpal-gumpal berkesan regas seperti kerupuk.
           

Pengendalian

a. Menggunakan benih tanaman yang sehat (tidak mengandung virus)
b. Melakukan rotasi tanaman dengan tanaman bukan dari famili solanaceae dan cucurbitaceae.
c. Melakukan sanitasi lingkungan
d. Penggunaan mulsa
e. Eradikasi tanaman sakit pada serangan kurang dari 5%
f. Penggunaan pupuk berimbang
           
                
 5.3 Penyakit Virus Mosaik Keriting 
      (disebabkan oleh salah satu atau gabungan PVY, TEV, CMV atau CVMV)
           

Gejala serangan

Daun tanaman yang terserang mosaik warna belang antara hijau tua dan hijau muda, kadang-kadang disertai dengan perubahan bentuk daun (cekung, keriting atau memanjang). Serangan salah satu strain CMV sering menyebabkan daun menyempit seperti rambut atau bercak berpola daun oak pada buah dan daun, atau mosaik klorosis.

 Pengendalian
a. Menggunakan benih tanaman yang sehat (tidak mengandung virus)
b. Imunisasi tanaman cabai merah dan tomat dengan virus CMV yang dilemahkan dengan satelit virus CARNA-5 dapat menahan serangan CMV yang lebih ganas di lapang
c. Melakukan rotasi tanaman dengan tanaman bukan dari famili solanaceae dan cucurbitaceae.
d. Melakukan sanitasi lingkungan
e. Penggunaan mulsa
f. Eradikasi tanaman sakit pada serangan kurang dari 5%
           
                     
5.4 Virus Kerdil, Nekrosis, Mosaik Ringan (yang disebabkan oleh TMV atau ToMV)

  Gejala serangan
Bervariasi termasuk mosaik, kerdil dan sistemik klorosis, kadang-kadang diikuti dengan nekrotik streak pada batang atau cabang dan diikuti dengan gugur daun.
           

Pengendalian

a.  Eradikasi kontaminasi virus pada benih biji dengan pemanasan atau perendaman dalam 10% Na3PO4 selama 1-2 jam.
b.    Menggunakan benih tanaman yang sehat (tidak mengandung virus)
c.   Memusnahkan tanaman cabai merah muda yang terserang dan menggantiny dengan tanaman yang sehat
d.  Melakukan rotasi tanaman dengan tanaman bukan dari famili solanaceae dan cucurbitaceae.
e.   Melakukan sanitasi lingkungan
f.    Penggunaan mulsa
g.   Eradikasi tanaman sakit pada serangan kurang dari 5%
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar