Minggu, 07 Mei 2017

TEKNOLOGI BUDIDAYA DUKU ( PADANG BATUNG ) YANG BAIK DAN BENAR

PENDAHULUAN
Duku (Lansium domesticum Corr) adalah salah satu buah buahan yang  cukup diminati konsumen,  biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar, Buah duku banyak mengandung vitamin - vitamin, protein, karbohidrat, lemak dll,  juga  mengandung serat yang bermanfaat untuk memperlancar  sistem pencernaan. Di Kabupten Hulu Sungai Selatan duku yang paling dikenal   Duku Padang Batung .

A. PEMILIHAN LOKASI DAN PERSIAPAN TANAM
1. Syarat Tumbuh
a. Iklim
Duku bisa ditanam  didataran rendah hingga ketinggian  1.500 – 2.500 mm pertahun.Tanaman ini dapat tumbuh dan berbuah baik pad berbagai jenis tanah, terutama tipe tanah Podsolik kuning, kaya bahan organik dan sedikit asam namun ketersediaan air tanah yang cukup.Duku tidak tahan penggenangan, duku umumnya berbuah sekali dalam setahun,sehingga dikenal adanya musim buah duku.

b. Tanah
· Tanaman duku dapat tumbuh baik sekali pada tanah yang banyak mengandung bahan organik,subur dan aerasi yang baik
· Derajat kemasaman pH untuk duku adala  6– 7 

2.  Persiapan lahan dan jarak tanam
a. Persiapan Lahan
     Sebelum dilakukan pengolahan lahan perlu diketahui terlebih dahulu tingkat pH tanah yang sesuai untuk tanaman duku, yaitu sebesar  6-7. Selain itu kondisi tanah yang akan diolah juga harus sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman duku yaitu tanah yang mengandung banyak bahan organik serta airase tanah yang baik.
b. Jarak Tanam
·      Jarak tanam yang dianjurkan sangat bervariasi dari jarak 8 x 8 m (kira-kira 150 pohon/ha,) sampai jarak 12x12 m (50-60 pohon/hektar). Jarak tanam ini ditentukan dengan memperhatikan adanya pohon-pohon pendampingnya.
·      jarak 50  m dibuat parit sedalam 1 m sebagai saluran drainase.
B. Penyediaan Bibit
     Kualitas bibit tanaman duku yang akan ditanam sangat menentukan produksi duku. Oleh sebab itu bibit duku harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a)  Bebas dari hama dan penyakit
b)  Bibit mempunyai sifat genjah
c)  Tingkat keseragaman penampakan fisik  seperti warna, bentuk dan ukuran lebih seragam dari bibit lain yang sejenis
d)  Bibit cepat tumbuh.
C.Teknologi Perbenihan
    1.   Sambung Pucuk
     Perbanyakan secara modern yang kini banyak dilakukan adalah dengan sambung pucuk (grafting). Teknik ini memungkinkan sifat-sifat genetik batang atas anakan yang dihasilkan sama dengan induknya, sementara waktu tunggunya dipersingkat menjadi 5–6 tahun. Anakan hasil sambung pucuk ini juga lebih kuat perakarannya daripada anakan hasil cangkokan.
2. Cangkokan
Cara lain yang juga populer adalah dengan mencangkoknya. Meskipun proses mencangkok ini memakan waktu yang relatif lama (8-9 bulan, akar keluar setelah 134 hari) namun pohon baru hasil cangkokan sudah dapat berbuah pada umur sekitar 2 (dua) tahun. Kelemahannya, persen kematian anakan hasil cangkokan cukup besar lagi pula pertumbuhannya tidak seberapa kuat
3. Biji
Calon batang bawah diperoleh dengan menyemaikan biji agar bibit sambungan  mempunyai perakaran yang kuat dan beradaftasi terhadap  lingkungan, persyaratan yang perlu diperhatiakan dalam memilih biji untuk batang bawah :
1) Biji dari jenis lokal yang lebih adaftif terhadap lingkungan setempat, dapat menggunakan duku, langsat atau kokosan.
2)    Biji dari buah yang masak dipohon.
3)    Biji direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif  benomil ( 3 g/l air) selama 24 jam lalu ditiriskan.
4)  Biji disemaikan dengan meletakkannya berjajar dalam peti kayu atau bedengan  berisi pasir steril dan pupuk kandang dengan jarak 2 x 2 cm.
5)   Setelah memiliki sepasang daun (tinggi sekitar 15 cm) bibit dipindahkan ke polibag berukuran 20 cm x 25 cm.

C.   Penanaman
Pohon duku umumnya di tanam dipekarangan, tetapi sering pula ditanam tumpang sari di bawah pohon kelapa atau ditumpang sarikan dengan tanaman lain seperti pohon manggis dan durian. Lubang tanam minimal yang dibuat adalah berukuran 0,6 x 0,6 x 0,6 meter. Namun akan lebih baik apabila ukurannya lebih besar yaitu 0,8 x 0,8 x 0,7 meter. Jarak tanam yang dianjurkan sangat bervariasi dari jarak 8x8 m (kira-kira 150 pohon/ha) sampai jarak 12x12 m untuk  tajuknya memencar (50-60 pohon/hektar). Jarak tanam ini ditentukan dengan memperhatikan adanya pohon-pohon pendampingnya.

D.   Pemeliharaan
1) Penjarangan dan Penyulaman Kegiatan penjarangan pada dasarnya adalah untuk mengurangi persaingan antara tanaman pokok (tanaman duku) dan tanaman lain ( tanaman pelindung). Penyulaman tanaman duku juga perlu dilakukan jika ada tanaman duku yang mati.
2) Penyiangan diperlukan untuk menghilangkan rumput dan herba kecil yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman duku.
3) Pemupukan sangat diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan hara, gunakan rekomendasi  sebagai berikut:
a) Tahun kedua dan ketiga untuk setiap pohon duku bisa diberikan pupuk 15-30 kg pupuk organik, urea 100 gram, TSP 50 gram dan ZK 20 gram.
b) Tahun keempat, kelima dan keenam, dosis pupuk dinaikan  menjadi 25-40 kg pupuk organik, urea 150 gram, TSP 60 gram dan juga pupuk ZK sebanyak 40 gram.
E.  Panen

Buah duku biasanya dipanen dengan cara dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan-tandan buahnya yang matang dengan pisau atau gunting pangkas. Hendaklah berhati-hati agar tidak melukai bagian batang tempat menempelnya gagang tandan, sebab perbungaan berikutnya juga akan muncul disitu juga. Kenyataannya, dari pada memanjat pohonnya lebih baik menggunakan tangga, sebab tindakan demikian akan mengurangi kerusakan kuncup-kuncup bunga yang masih dominan. Diperlukan 4 atau 5 kali pemanenan sampai semua buah habis dipetik dari pohon. Buah duku yang siap dipanen biasanya kulit buah berwarna kuning kehijau-hijauan bersih dan bahkan telah menjadi kuning keputih-putihan serta buah agak lunak. Tanda tanda lainnya adalah getah pada kulit buahnya sudah tampak berkurang atau tidak ada getah sama sekali pada kulit buah duku, jika buah masih berwarna hijau berarti buah belum matang dan tidak siap dipanen.

Sumber 
Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.  Tahun 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar