Minggu, 26 Juli 2009

Kiat Meningkatkan Produktivitas Umbi-umbian ( UBIKAYU DAN UBI JALAR)


Namun apa yang terjadi kondisi saat ini kedua komoditi tersebut ditinjau dasri aspek :

a.Pencapaian Produktivitas
Produktivitas ubikayu dan ubi jalar masih relatif rendah baik secara kualitas maupun kuantitas jika dibandingkan dengan potensi hasil. Pencapaian produktivitas rata-rata nasional angka BPS 2007 untuk ubikayu sebesar 16,6 ton/ha dan ubijalar 10,6 ton/ha, sedangkan potensi hasil untuk ubikayu berkisar 25 – 40 ton/ha dan ubijalar 25 – 35 ton/ha. Kedaan ini disebabkan adanya permasalah yang kritikal antara lain rendahnya penerapan teknologi produksi terutama penggunaan varietas unggul, potensi hasil tinggi dan input pemupukan yang belum dilakukan sesuai anjuran . Selain itu juga harga kedua komoditi ini relatif rendah dan petani yang berusaha tani kmoditi ini pada umumnya modalnya terbatas dan skala usahanya sempit, pola usahatani imimnya subsistem /tradisional.



b.Ketersediaan Sumberlainna ahan
Budidaya ubikayu dan ubijalar pada umumnya dilahan kering. Ketersediaan lahan kering untuk pengembangan ubikayu dan ubijalar cukup potensial namun demikian kondisi lahan kering pada umumnya miskin unsur hara dan bahan organik. Dengan demikian, budidaya ubikayu dan ubijalar memerlukan pengelolaan lahan yang intensif serta pemupukan yang efektif. Untuk itu diperlukan biaya dari tenaga yang memadai. Potensi ketersediaan lahan kering yang terdiri dari ladang, tegal dan lahan sementara tidak diusahakan angka BPS 2005 di Indonesia sekitar 26 juta ha, di Jawa 3 juta ha dan luar Jawa 23 juta Potensi ini cukup luas untuk usaha pengembangan, namun diperlukan dukungan berbagai pihak lain penyediaan fasilitas infrastuktur, modal, teknologi produksi, panen, pasca panen, pengolahan serta pemasaran yang baik dan tepat guna. Selain itu juga pembiayaan dan bimbingan dari pemerintah serta partispasi dari swasta.

c.Profil Rumah Tangga Petani
Petani yang berusaha di lahan kering yang mengusahakan budidaya palawija pada umumnya petani miskin dengan skala usahatani relatif sempit, keadaan modalnya terbatas dn pola usahataninya subsistem. Akses terhadap teknologi , fasilitas modal dan peluang pasar lemah. Keberadaan rumah tangga pertanian data Surpei Pertanian (SP) tahun 2003, jumlah rumah tangga pertanian diwilayah pedesaan yaitu, petani pengguna lahan sekitar 21 juta, rumah tangga petani gurem 10.7 juta , rumah tangga petani yang berusaha palawija 9.6 juta dan rumah tangga. . dan rumah tangga petani padi/palawija 16 jta. Angka jumlah rumah tangga tersebut cukup potensial banyaknya,. Namun keadaannya untuk kebangkitannya menuju kesejahteraan diperlukan dorongan dan dukungan dari semua pihak yang mempunyai peranan dalam pembangunan pertanian.

d.Ketersediaan Teknologi Varietas Unggul.
Pengembangan teknologi varietas unggul umbi-umbian (ubikayu dan ubijalar) yang dihasilkan Balai penelitian adalah sebagai berikut : untuk ubikayu 10 varietas dan ubijalar 19 varietas. Varietas ubikayu yang potensi hasilnya tinggi sekitar 25 – 40 ton /ha sejumlah 15 varietas dan ubijalar dengan potensi hasil sekitar 25 – 35 ton/ha sejumlah 15 varietas, Penyebaranluasan benih bermutu varietas unggul dari tanaman ubikayu maupun ubijalar ini masih sangat terbatas, baik jumlah maupun wialyah lokasinya. Petani sebagian besar menggunakan bibit dari hasil tanamannya sendiri dan umumnya varietas lokal yang sudah dikenal masyarakat. Secara luas dan pangsa pasarnya jelas . Jadi prinsipnya petani tidak ada bibit bermutu varietas unggul tetap menanam, dikarenakan mata pencaharaiannya hanya menggantungkan bertani/bercocok tanam

Sri Murniati, PM-IP Direktorat Kacang kacangan dan umbi-umbian
Sumber : Tabloid Sinar Tani, Edisi 17-23 Juni 2009, No. 3308 Tahun XXXIX

Anda dapat lebih lengkap mengikuti artikel tentang Ubi Jalar pada Situs web milik Balai Penelitian Kacang-kacangan dan umbi-umbian ( Balitkabi) Malang

klik di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar