Rabu, 30 September 2009

Nilam, Tanaman Semak Banyak Manfaat




 Nilam dapat tumbuh di mana saja dan bisa ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya. Namun, nilam akan tumbuh baik pada ketinggian 10-400 m dpl. Nilam tidak haus air dan tahan kering, tapi nilam hanya menghendaki suhu 24-28 derajat Celcius dan mempunyai kelembaban lebih dari 75% serta curah hujan yang merata sepanjang tahun 2.000-3.500 mm per tahunnya.

Di beberapa negara seperti Malaysia, Madagaskar, Paraguay, Brasil, Cina termasuk Indonesia, Nilam dikembangkan menjadi minyak atsiri yang disebut minyak eteris atau minyak terbang (essensial oil, volatile).

Minyak yang berasal dari nilam dimanfaatkan sebagai obat-obatan seperti anti septik, anti jamur, anti jerawat, obat eksim, dan kulit pecah-pecah, serta ketombe, mengurangi peradangan, bahkan dapat membantu mengurangi kegelisahan dan depresi, atau membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur) dan bersifat afrodisiak meningkatkan gairah seksual.

Tak hanya minyak. Di India misalnya, daun nilam kering digunakan sebagai pengharum pakaian dan permadani. Malahan kabarnya, air rebusan atau jus daun nilam dapat diminum sebagai obat batuk, asma, dan remasan akarnya untuk obat rematik dengan dioleskan pada bagian yang sakit. Serta remasan daunnya juga manjur untuk obat bisul dan pening kepala.

Sedangkan di Eropa dan Amerika, minyak nilam digunakan sebagai bahan baku industri pembuatan minyak wangi sebagai pengikat bau atau fikative parfum, kosmetik, dll. Komponen utama minyak nilam diperoleh dengan cara penyulingan daun nilam yang berupa pachoully alcohol 45-50%, sebagai penciri utama. Bahan industri kimia penting lainnya meliputi patchoully camphor, cadinene, benzaldehyde, eugenol, dan cinamic aldehyde.

Adapun penyulingan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu cara direbus, dikukus, dan penyulingan dengan uap. Penyulingan direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi. Kapasitas ketel penyulingan bervariasi, mulai dari 200-2000. Ketel dibuat dari bahan antikarat, seperti stainless steel, besi atau tembaga berlapis alumunium.

Dari ketel akan keluar uap, kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung dengan kondensor (pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang sesungguhnya merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di ujung pipa dan ditampung dalam wadah. Selanjutnya, dilakukan proses pemisahan sehingga diperoleh minyak nilam murni.

Sementara sistem penyulingan uap menjamin kesempurnaan produksi minyak atsiri. Pada sistem ini bahan tidak kontak langsung dengan air maupun api. Prinsipnya, uap bertekanan tinggi dialirkan dari ketel perebus air ke ketel berisi daun nilam (ada dua ketel). Uap air yang keluar dialirkan lewat pipa menuju kondensor hingga mengalami kondensasi. Cairan (campuran air dan minyak) yang menetes ditampung, selanjutnya dipisahkan untuk mendapatkan minyak nilam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar