Sabtu, 26 Desember 2009

Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat




Jeruk merupakan jenis buah yang digemari masyarakat baik sebagai buah segar maupun olahan. Sebagai salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi
dan memberikan kontribusinya yang besar pada perekonomian nasional,sudah selayaknya pengembangan jeruk mendapat perhatian yang besar. Apalagi peluang untuk pemasarannya
masih terbuka, terlihat dari peningkatan permintaan pasar dalam negeri dari tahun ke tahun, sejalan dengan pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan dan kesadaran gizi masyarakat.


Produktivitas jeruk di Indonesia relative rendah,berkisar 7 - 8 ton per hektar dibandingkan dengan potensinya+ 20 ton/ha, Bahkan dinegara penghasil jeruk utamanya bisa mencapa+i 40 ton/ha.S ementara itu produktivitajs jeruk di Propinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2OO7 hanya 3,7 ton/ha, lebih rendah Dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 4,6 ton/ha. Berdasarkan
laporan Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan, penurunan tersebut antara lain disebabkan oleh tingginya serangan penyakit diplodia pada daerah-daerah sentrap roduksi
dan iklim yang kurang kondusif. Umumnya pertanaman jeruk  di Kalimantan Selatan belum dikelola secara baik. Petani masih lemah dalam aspek perawatan dan pemeliharaan tanaman jeruknya terutama dalam hal pemupukan pemangkasa dan penjarangan buah.

Pada tahun 80-an sebagian besar sentra-sentra produksi di Indonesia hampir punah terserang penyakit CVPD, kecuali jeruk besar/Bal yang sejanjutnya dipahami torerant terhadap penyakit ini. CVPD termasuk salah satu penyakijt jeruk yang masih menjadi momok bagi para petani. Di sebagian besar sentra produksi,petani jeruk pernah merasakan keganasan serangan penyakit  ini yang mampu memusnahkan seluruh tanaman jeruk bahkan hingga saat ini masih ada yang belum terbebas dari serangan penyakti  tersebut.

Berbagai  upaya telah dilakukan guna menanggulangi Penyakit CVPD ini seperti program rehabilitasi jerut  yang menitik-beratkan pada eradikasi tanaman sakit pengendalian dengan infusan oxytetrasiklin –Hcl dan pengendalian terpadu dengan melibatkan seluruh komponen pengendalian termasuk eradikasi infusan  dengan antibiotika penggunaan bibit jeruk bebas( gejala) penyakit  CVPD, pemberantasan vector  CVPD dan hama penyakit  lainnya serta diikuti penerapan teknik budidaya yang baik.walau pun demikian upaya tersebut  belum memberikan hasil yang memuaskan

Tampaknya upaya pemulihan tanaman terhadap serangan penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama.




Bersambung pada posting berikutnya. membahas tentang Pengendalian Penyakit Jeruk khusus CVPD.

1 komentar:

  1. Kami selaku petani sekaligus pengusaha pemula jeruk siam sangat terbantu dengan tulisan anda. Kami baru merintis usaha jeruk siam ini di awal Mei 2010. Silakan kunjungi blog kami http://syifacitrus.blogspot.com

    BalasHapus